Connect
To Top

Trenggiling, Satwa Paling Diburu dan Diperdagangkan di Pasar Ilegal

Ulumasen.com – Kejahatan perdagangan illegal satwa dilindungi di pasar gelap merupakan masalah serius dan menjadi trending isu di tingkat internasional. Hal itu disebabkan karena meraknya perdagangan bagian atau potongan tubuh satwa liar yang dilindungi terjadi di berbagai belahan dunia tak kecuali Indonesia. Tak heran para pelaku kejahatan perdagangan satwa dilindungi memiliki jaringan Lintas Negara. Perdagangan satwa langka menjadi satu masalah serius ketiga di dunia setelah kejahatan narkoba dan perdagangan senjata.

Seperti yang kita ketahui, potongan tubuh satwa langka tak kalah harganya dengan narkoba dan senjata yang diperdagangkan secara illegal di pasar gelap yang pelakunya boleh sebutkan kelompok mafia yang bergelut dalam perdagangan illegal. Berbagai strategi atau modus operandi yang dimainkan para mafia dalam memperdagangkan barang illegal tersusun rapi, terkoordinir dan terstruktur. sehingga tak jarang mereka berhasil menyelundupkan satwa dari satu negara ke negara lain.

Banyak kasus terungkap ke publik yang berhasil diungkapkan oleh pihak berwenang. Namun kita sangat yakin yang terungkap hanya sebagian kecil kasus yang dilakukan oleh kelompok mafia di pasar gelap.

Status dilindungi tak membuat hewan-hewan  terhindar dari perburuan dan perdagangan ilegal. Hewan-hewan dikejar lalu dikulak di pasar lokal maupun internasional. Dari sekian satwa yang dilindungi yang statusnya terancam yang paling banyak diminati dan diperdagangkan di pasar illegal saat ini merupakan jenis satwa trenggiling.

Pecaya atau tidak, permintaan sisik trenggiling di pasar illegal international meningkat, hal itu disebabkan sisik tragiling menjadi bahan baku untuk pembuat sabu.

Pakar lingkungan dan kesehatan menyebutkan bahwa sisik trenggiling mengandung zat aktif Tramadol (HCI) zat aktif analgesic untuk mengatasi nyeri dan pertikel pengikat zat psikotropika jenis sabu-sabu. Jadi sangat logis jika sisik trenggiling diharga puluhan juta hingga ratusan juta perkilogram di pasar illegal.

Sebuah sumber menyebutkan Medan, Sumatera Utara merupakan salah satu Kota sentral tempat transit satwa dilindungi sebelum di ekspor ke luar negeri dengan tujuan beberapa Negera tetangga seperti Malaysia, Singapura, Thailand, Hongkong, China dan beberapa Negara lainnya.

Hal tersebut berdasarkan data yang menyebutkan sebagian besar hewan tregiling berhasil disita di Kota Medan, Sumatera Utara. Medan menghubungkan jalur transaksi perdagangan ilegal Indonesia dengan Malaysia dan Singapura. Dalam menyuplay  trenggiling ataupun berupa sisik ke beberapa Negera tetangga para pelaku pada umumnya menggunakan jalur laut.

Beberapa kasus yang berhasil diungkap oleh pihak kepolisian tentang pelaku perdagangan satwa jenis treggiling di Aceh, pelaku mengakui bahwa tregiling yang dikumpulkan dari pemburu rencana menjualnya ke Medan, Sumatera Utara. Seperti kasus pelaku penjual sisik trenggiling di Pidie dan Banda Aceh.

Treggiling saat ini tercatat sebagai satwa berstatus kritis dalam daftar merah spesies terancam di International Union for Conservasi of Nature (IUCN). Berat dugaan satwa jenis tregiling mengalami pengurangan populasi secara dratis akibat perdagangan illegal.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Berita