Connect
To Top

Tiga Pemuda Kembali Jalani Sidang di PN Banda Aceh atas Kasus Jual-Beli Sisik Trenggiling

Terdakwa Khairul Furqan mengaku selain dari Ahmad Zaini ia juga mendapat barang berupa trenggiling hidup dari seseorang warga panca dan kiriman sisik trenggiling kering dari seseorang di langsa yang dikirim melalui jasa angkutan minibus L 300. Namun ia tidak mengenal karena hanya berkomunikasi melalui telepon.

Tiga pemuda kembali jalani sidang di Pengadilan Negeri Banda Aceh atas dakwaan melakukan transaksi jual beli sisik trenggiling yang merupakan satwa dilindungi. Selasa (22/10/2019). Persidangan yang terlibat 3 terdakwa diketuai Juandra SH dengan Jaksa Penuntut Umum Maulijar S.HI, SH diadili secara terpisah dalam dua berkas berbeda.

Persidangan dimulai dengan agenda pembacaan tanggapan jaksa terhadap eksepsi penasehat hukum terdakwa Fauzul M Isa. Dalam persidangan Jaksa Penuntut Umum (JPU) menolak sluruh esepsi penasehat hukum terdakwa M Isa, JPU tetap pada dakwaan sebelumnya.

Kemudian sidang dilanjutkan dengan dua terdakwa Khairul Furqan dan Ahmad Zaini dalam dengan agenda mendengarkan keterangan saksi, JPU menghadirkan dua orang saksi dari opsnal Sat Reskrim Polresta Banda Aceh yang terlibat langsung dalam melakukan penangkapan terhadap terhadap dua terdakwa.

Dalam keterangan saksi, penangkapan terhadap dua terdakwa yaitu Khairul Furqan berdasarkan informasi dari masyarakat bahwa  pada senin 19 Agustus sekitar pukul 20.30. WIB akan ada transaksi jual beli sisik trenggiling di Sei Hotel Gampong Mulia, Kuta Alam Kota Banda Aceh. Dalam pengakuan saksi, pihak kepolisian juga mendapat informasi ciri-ciri orang yang membawa sisik trenggiling dan menggunakan sebuah tas. Saat ditangkap di lobi hotel terdakwa Khairul Furqan sempat membantah bahwa yang dibawanya itu sisik ikan. namun setelah digeledah pihak Sat Reskrim Polresta Banda Aceh menemukan kantong plastik warna merah  yang berisikan sisik trenggiling didalam sebuah tas warna abu-abu merk Eiger dengan berat sekitar 6,3 Kg, semua barang bukti juga ikut dihadirkan di pengadilan Negeri Banda Aceh.

Kemudian Tim Sat Reskrim Polresta Banda Aceh yang berjumlah 6 orang melakukan pengembangan dan kemudian mengamankan Ahmad Zaini disalah satu warung nasi  di Peunayong Banda Aceh.

Saat ditanya Hakim dan JPU, terdakwa Khairul Furqan mengaku selain dari Ahmad Zaini ia juga mendapat barang berupa trenggiling hidup dari seseorang warga panca dan kiriman sisik trenggiling kering dari seseorang di langsa yang dikirim melalui jasa angkutan minibus L 300. Namun ia tidak mengenal karena hanya berkomunikasi melalui telepon.

Sementara yang trenggiling hidup ia sembelih sendiri di rumahnya dan mengkuliti kulitnya, sedangkan daging trenggiling dikasih untuk umpan ikan. Rencananya sisik trenggiling dengan berat kurang lebih 6 Kg akan dijual dengan harga 2,5 Juta.

Terdakwa Khairul Furqan mengakui bahwa baru pertama kali melakukan transaksi satwa dilindungi, dirinya juga tidak mengetahui bahwa trenggiling merupakan satwa dilindungi, hal itu ia lakukan karena ada yang meminta, biasanya ia hanya melakukan jual beli burung di pinggir jalan Medan- Banda Aceh, Lamtamot, Aceh Besar.

Ketiga tersangka melanggar Pasal 21 Ayat (2) juncto Pasal 40 Ayat (2) UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya juncto Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP. (TM)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Berita