Connect
To Top

Sampah Plastik Tak Mampu Diurai Alam, Butuh Waktu 1.000 Tahun Matahari Membakar

Sampah merupakan material limbah hasil pembuangan dari pamakaian manusia. Sampah tercipta karena manusia ada, pada dasarnya dalam konsep alam tidak ada sampah melainkan produk yang dihasilkan selama proses alam berlangsung.

Berbicara soal sampah, mungkin semua orang tidak menyukai sampah, karena selain merusak alam sampah itu kotor, jorok dan menimbulkan bau tak sedap. Dari sisi kesehatan juga akan terganggu dan sampah bisa membunuh satwa di alam terutama sampah dari dari bahan plastik jika pengelolaannya tidak bijak dalam keseharian hidup manusia.

Bahan plastik sangat dekat dengan kehidupan manusia, hampir semua orang di bumi menghasilkan sampah plastik. Membuang sampah sembarangan mungkin bagi sebagaian orang itu hal yang lumrah dan terkesan bukanlah suatu kesalahan. Namun taukah bahwa sampah plastik baru akan terurai dalam jangka waktu 500 Tahun hingga 1.000 Tahun lamanya. Itu waktu yang sangat lama, manusia aja tidak ada yang berumur 500 Tahun apalagi 1.000 tahun atau 1 Abad

Kenapa alam begitu lama memproses sampah dari bahan plastik, bahan dasar kantong plastik umumnya adalah polyethylene yang tidak bisa mengalami biodegrasi atau proses penguraian langsung oleh alam, melainkan melalui proses ultraviolet yang menjadi rapuh dan pecah terkena sinar matahari. Untuk proses penghancuran satu palstik di bumi sinar matahari membutuhkan waktu hingga 500 Tahun hingga 1.000 tahun lamanya. Itu untuk sampah yang ada di darat, bayangkan jika sampah plastik di laut dalam kondisi basah terus.

Nah, bisa dibayangkan sampah yang kita buang hari ini baru terurai 500 hingga 1.000 tahun kemudian yang pasti kita telah tiada lagi dibumi ini atau telah meninggal dunia. Jika tidak kita sadari hal itu secara langsung maupun tidak langsung sampah plastik menjadi warisan untuk anak cucu kita yang hidup 500 tahun atau 1000 tahun yang akan datang?.

Banyak tulisan yang ditempel di tempat-tempat umum, “Dilarang buang sampah sembarangan, bunaglah sampah pada tempatnya, kebersihan sebagian dari iman” dan lain lain, hal itu tidak membuat kita sadar, karena masih banyak sampah yang berserakan dimana-mana, di pinggir jalan, di sungai, dilaut, bahkan di sekitar posisi kita atau lingkungan kita masih ada sampah yang berserakan yang membuat lingkungan rusak dan kesehatan kita terganggu bahkan banyak hewan yang mati karena memakan kertas. Seperti yang terjadi di Thailand seekor paus pilot mati setelah makan 80 keping sampah plastik.

Sebuah Studi Internasional menyebutkan, sejak perang dunia kedua, manusia telah melapisi bumi dengan sampah plastik, hal itu akan berdampak buruk bagi masa depan bumi.

Seperti postingan saya sebelumnya Indonesia Pencemar Laut Terbesar ke 2 di Dunia dalam hal ini Indonesia butuh sebuah gerakan yang besar untuk menangani persoalan sampah plastik baik di laut maupun di darat. Dan itu tidak hanya kewajiban pemerintah saja melainkan kewajiban kita bersama. Bagaimana caranya kita untuk ikut ambil andil dalam menangani persoalan sampah yang telah terlanjur mencemarkan alam?.

Lakukan apapun dalam bentuk apapun sekecil apapun untuk membuat perubahan yang besar, karena tak aka nada hal yang besar tanpa diawali hal yang kecil. Dalam hal ini walau kita tak mampu membuat perubahan secara keseluruhan hingga menjadi sebuah gerakan atau aksi yang besar setidaknya kita tidak ikut menambahkan sampah di bumi dengan menanam budaya tidak membuang sampah sembarangan tempat dalam diri kita masing masing dan mengajak orang-orang disamping dan orang dekat kita dan seterusnya sehingga semua rakyat Indonesia sadar efek buruk dan bahaya sampah yang dibuang sembarangan tempat. itu sebuah kontribusi yang luarbiasa bagi bumi kita dalam menangani persoalan limbah sampah saat ini.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Polutan