Connect
To Top

Perang Aceh Berakhir, Perang Satwa dengan Manusia Dimulai

Setelah damai atau pasca MoU Helsinky Hutan Aceh terus menyusut, berbagai aktifitas manusia aktif di berbagai titik dalam kawasan hutan. Kondisi ini sangat bertolak belakang disaat konflik bersenjata di Aceh yang kondisi hutan terjaga, dimana disaat konflik bersenjata di Aceh antara Pemerintah RI dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) tidak ada aktifitas yang berarti dalam kawasan hutan, hal tersebut disebabkan masyarakat takut pepergian ke hutan karena di hutan sering terjadi kontak tembak antara GAM dengan TNI/Polri.

Pasca damai perambahan hutan semakin tak terkendalikan, dari illegal loging, pembukaan lahan dalam areal hutan, pertambangan illegal aktif di berbagai titik konflik satwa dengan manusiapun tak dapat dielakkan di berbagai daerah di Aceh khususnya di desa pinggiran hutan.

Bersadarkan data tercatat selama 2016 saja 4.097 hektar kawasan hutan di Ekosistem Leuser (KEL) di Aceh hilang karena berubah fungsi. Pada Januari 2016, luas hutan kawasan KEL mencapai 1.820.726 hektar, namun dalam hitungan 6 Bulan atau Juni menjadi 1.816.629 hektar.

Belum lagi angka pada tahun 2017 dan 2018 yang memang telah menyusut secara dratis disebabkan oleh pembukaan lahan perkebunan atau pengalihfungsi lahan. Hal itu tentu membaut kita prihatin terhadap kenyataan yang ada.

Konflik antara GAM dan TNI memang telah berakhir dengan ditandatanganinya nota kesepakatan perdamaian di Helsinky pada 2005 yang lalu, namun tanpa kita sadari konflik lingkungan bermunculan seperti pemburuan yang mengakibatkan konflik satwa dengan manusia, konfersi hutan ke perkebunan sawit semakin meluas tak jarang konflik lahan terjadi antara perusahaan dengan warga, namun semua itu dengan dalih pertumbuahan ekonomi masyarakat akan tetapi kenyataannya bertolak belakang dari semua itu, kerugian dari sektor lingkungan dan ekonomi masyarakat juga menjadi kenyataan yang tak dapat dielakkan lagi, selum lagi selama ini bencana banjir dan tanah longsor semakin sering terjadi .

Selama ini gajah dan harimau yang masuk kepemukiman di berbagai wilayah di Aceh sering menyerang tanaman warga bahkan tak jarang manusia jadi korban. hal itu disebabkan habitat satwa mulai terusik sehingga hewan bertubuh besar dan raja rimba harus turun gunung demi mempertahankan hidup.

Seharusnya hal itu membuat kita menyadari akan semua itu terutama bagi Pemerintah yang punya wewenang atas suatu kebijakan untuk menjaga dan melindungi kawasan Hutan sehingga semua konflik bisa terminimalisir demi terwujudnya hutan yang lestari.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Flora