Connect
To Top

Mitos dan Sebaran Habitat Trenggiling di Dunia

Sisik trenggiling sangat popular di pasar gelap karena banyak digunakan dalam industri narkotika illegal jenis sabu-sabu sebagai bahan pengikat.

Ulumasen.com – Trenggiling (Manis Javanica ) atau dalam bahasa ingrisnya Pongolin merupakan jenis mamalia yang hanya hidup di dua benua yaitu Benua Asia dan Benua Afrika termasuk di negara Indonesia. Trenggilng hidup di daratan rendah dengan ketinggian 1.700 Mdpl, trenggiling banyak ditemukan di hutan premer dan skunder.

Hingga saat ini Informasi tentang studi spesies trenggiling masih sangat minim, hal tersebut desebabkan karena sifat dari satwa tersebut sangat soliter dan tidak mencolok atau kalah pamor dari satwa lain yang lebih kharismatik seperti gajah, harimau, badak dan sejenisnya.

Sebaran trenggiling di Indonesia berada di Pulau Sumatera, Pulau Jawa dan Pulau Kalimantan. Trenggiling merupakan mamalia satu satunya pemakan serangga yang bersisik, sisiknya berfungsi sebagai perlindungan saat terancam bahaya dari pemangsa lain, ia akan menggulungkan dirinya meyerupai bola dengan lapisan sisik keras yang tidak tembus oleh gigitan pemangsa lain bahkan gigitan macan dan marimau sekalipun.

Meskipun trenggiling punya sifat perlindungan pertahanan yang kuat dari predator lainnya akan tetapi tidak ampuh melindungi diri dari buruan manusia.

Pertengahan era 90-an, Trenggiling mulai menyita perhatian banyak pihak. Ketika permintaan daging dan sisik maupun trengggiling dalam keadaan hidup meroket tajam di pasar illegal yang diselundupkan antar negara.

Dalam beberapa tahun terakhir semakin banyak pemerhati satwa liar yang menyoroti mamalia bersisik karena tingginya permintaan di pasar illegal.

Sebuah sumber menyebutkan bahwa permintaan trenggiling tertinggi di dunia adalah Negara China, dimana banyak masyarakat di China percaya akan organ tubuh trenggiling memiliki khasiat menyembuhkan berbagai penyakit, dari penyakit kulit, melancarkan darah, memperlancar ASI, menambah vitalitas hingga menyembuhkan penyakit kanker, akan tetapi, semua itu masih merupakan mitos dalam masyarakat China dan belum terjawab dalam sebuah penelitian ilmiah yang membenarkan itu semua.

Tidak hanya sisik trenggiling yang menjadi target masyarakat China untuk dijadikan obat, Masyarakat China dikenal doyan menyantap hidangan dari trenggiling, yang lebih mengerikan, sop janin trenggiling menjadi hidangan special untuk disantap di China. tidak hanya itu trenggiling dewasapun juga menjadi sajian yang disembelih sesaat sebalum disantap.

Walau Trenggiling tidak memiliki kandungan gizi lebih tinggi dari daging ayam, namun banyak pengakuan konsemuen di China menyebutkan rasa daging trenggiling hampir sama dengan rasa daging ayam. Benarkah?

Sebuah lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pernah mengeluarkan pernyataan di media massa oleh prof. Gono Semaidi menyatakan bahwa sepakat dengan ahli farmakologi di dunia yang telah meneliti kandungan pada daging trenggiling dan sisik memiliki kandungan tertentu sehingga membuat bagian organ trenggiling menjadi istimewa.

Pakar lingkungan hidup dan kesehatan Universitas Riua (UR) menyebutkan bahwa sisik trenggiling mengandug zat Tramadol HCI yang merukapan pertekel pengikat zat yang terdapat pada spikotropika jenis Sabu-sabu. Artinya besar dugaan bahwa sisik trenggiling yang diperdagangkan di padar illegal international digunakan untuk bahan pembuat sabu-sabu, sehingga harga jualnya mencapai jutaan rupiah per Kilogram. Bahkan dijual dengan harga 5 US Dollar per keping.

Sisik trenggiling sangat popular di pasar gelap karena banyak digunakan dalam industri narkotika illegal jenis sabu sabu sebagai bahan pengikat zat sabu sabu. jika dikaji paraktek tersebut dinilai sangat kejam, karena pada umumnya mengambil sisik trenggiling dengan cara direbus tak jarang dalam keadaan hidup hidup.

Trenggiling telah dinyatakan sebagai mamalia paling terancam punah oleh lembaga konservasi dunia, International Union for Conservation of Nature (IUCN). Secara kasar diperkirakan sekitar 100.000 ekor trenggiling ditangkap di alam dan diperdagangkan di pasar illegal dunia. Padahal, trenggiling hanya melahirkan satu anakan saja. Sedangkan jumlah populasi di seluruh dunia belum terhitung secara pasti. Demikian juga dengan rentang usia trenggiling. Walau demikian para ahli sangat yakin populasi trenggiling menurun tajam dan terancam punah dalam beberapa tahun terakhir.

Di Indonesia, satwa jenis trenggiling merupakan satwa yang dilindungi oleh undang undang yang tercatut dalam UU No 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumberdaya Alam dan Hayati dan Ekosistemnya, turunan melalui PP No 7 Tahun 1999 Tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa Langka.

Pada 28 September 2016, 183 Perwakilan Negara-negara anggota Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES) sepakat untuk memasukaan seluruh spesies Trenggiling di dunia kedalam katagori Appendix I yang sebelumnya ditingkat Appendiz II. sehingga Segala bentuk perdagangan antar Negara sangat dilarang keras kecuali untuk kerluan khusus seperti penelitian.

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in Konservasi