Connect
To Top

Merawat Meudang Jeumpa dari Kepunahan

“Karena saya sadar pohon yang memiliki nilai historis mulai langka, saya ingin merawatnya kembali dari kepunahan”

Ulumasen.com – Mukim Lutueng Kecamatan Mane termasuk dalam kawasan ulumasen, 70% wilayah kemukiman Lutueng merupakan kawasan hutan lindung yang kaya akan keanekaragaman hayati dan habitat satwa dan tumbuhan langka, di dalam kawasan hutan Kemkiman Lutueng tidak hanya tempat satwa liar yang langka akibat pemburuan liar, akan tetapi beberapa jenis pohon juga ikut menjadi langka akibat perambahan atau penebangan liar, Rabu (12/12/2019).

Pohon Meudang Jeumpa dalam bahasa latinya Mognallia Montana, merupakan pohon yang memiliki nilai histori di Aceh dan memiliki kualitas kayu yang tinggi dan sangat baik.

Dulu, Meudang Jeumpa sangat dikenal di kalangan masyarakat Aceh, karena kayu meudang jeumpa dimanfaatkan sebagai bahan kontruksi untuk pembuatan rumah adat Aceh, Setiap membuat rumah adat Aceh kayu Pohon Meudang Jeumpa digunakan di Peulangan rumah adat Aceh.

Meudang Jumpa (Mognallia Montana)

Salah seorang tukang kayu yang juga pembuat rumah adat aceh, Syarbani (53) warga Turue Cut, Kemukiman Lutueng, Mane, Kabupaten Pidie mengungkapkan , kontruksi rumah adat Aceh kayu pohon meudang jeumpa digunakan dibagian peulangan.

“Lebar Peulangan kayu dari meudang jeumpa kira- kira sekitar 45cm dan tebal 6 cm dan panjangnya tergantung dari ukuran rumah adat Aceh sendiri, misalnya panjang rumah 9 meter maka kayu meudang jeumpa harus 9 meter dan dibagian kiri dan kanan rumah adat Aceh ada tiang raja dan tiang Putri yang diatasnya tempatkan bendera merah putih, dulu tujuannya untuk menyembunyikan bendera merah dari penjajahan belanda”,

Syarbaini mengisahkan, sekitar  Tahun 1977, pohon meudang jeumpa masih terdapat atau tumbuh di perkampungan, namun sekarang meudang jeumpa jarang didapat. “jikapun ada lokasinya berada dalam kawasan hutan yang jauh dari perkampungan, namun saat ini ada sebagian masyarakat yang masih menanam pohon meudang jeumpa dikebunnya dan itupun mereka yang masih mengenal dan mengetahui manfaat pohon meudang jeumpa, ujar Syarbaini.

Mukim Lutueng sedang merawat bibit tanaman pohon meudang jeumpa | Photo: Ulumasen.com

Sementara itu, karena sadar pohon muedang jeumpa mulai langka, Mukim Lutueng Sulaiman SE berinisiatif untuk mengembangkan kembali Tanaman meudang jeumpa dengan melakukan pembibitan di nursery atau tempat pembibitan miliknya di Desa Tureu Cut Kecamatan Mane Kabupaten Pidie, “karena saya sadar pohon yang memiliki nilai histori mulai langka, saya ingin merawatnya kembali dari kepunahan”, papar Mukim Sulaiman.

Saat ini di nursery milik Mukim Lutueng hanya terdapat sekitar 1.500 bibit tanaman pohon meudang jeumpa, rencananya bibit tanaman  yang dirawat olehnya akan dibagikan kepada masyarakat untuk ditanam dikebun atau dirumahnya.

Menurut Sulaiman, jumlah tersebut belumlah cukup dan kendalanya dalam megembangkan pohon yang mulai langka ini sulitnya mendapat bibit, jikapun ada pohon tersebut berada dalam kawasan hutan.

Mukim Lutueng menambahkan, sebelumnya dalam mencari bibit tanaman meudang jeumpa dibantu oleh para ranger, “saat para ranger melakukan patroli ke hutan jika menemukan pohon meudang jeumpa saya minta untuk membawa pulang bibit tanaman meudang jumpa.

Dengan melakukan pembibitan tanaman yang mulai langka ini, Sulaiman berharap pohon yang memiliki nilai historis di Aceh akan tetap lestari dan tetap ada, sehingga anak cucu kita nanti akan tetap mengenal pohon yang namanya meudang jeumpa “, pungkas Mukim Lutueng, (TM).

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in Berita