Connect
To Top

Mencari Solusi Tangani Konflik Gajah Hingga ke India, Manakah yang Efektif?

Pemerintah Aceh berencana mengadopsi sistem perencanaan yang diterapkan oleh Pemerintah Assam, New Delhi dalam menghadapi konflik satwa, terutama konflik gajah dengan manusia.

“Selama ini penyelesaian konflik gajah di Aceh bersifat reaktif dan parsial. Belum ada penyelesaian secara menyeluruh dari hulu hingga ke hilir,” kata Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Aceh, Azhari Hasan.

“Ternyata perlu master plant, perencanaan, inilah yang kita dapat. Jadi konsep ini kita siapkan, kita sesuaikan dengan kondisi di Aceh,” ujarnya Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Aceh, Azhari Hasan, saat berada di New Delhi seperti dikutip di Serambinews.com

Untuk diketahui, di Assam menetapkan koridor satwa, sebagai jalur penghubung dari satu kawasan satwa ke kawasan lain. Di lintasan koridor tersebut dipasang pagar kejut atau jeruk lemon, tanaman barier yang tidak disukai gajah. Dengan demikian, gajah tidak masuk ke wilayah pemukiman penduduk maupun areal pertanian/perkebunan.

Selama ini konsep penggiringan gajah kembali kehabitatnya telah dilakukan berulang kali oleh pihak Pemerintah dalam hal ini BKSD, namun dalam waktu singkat gajah kembali lagi ke pemukiman penduduk. Sementara itu, masyarakat hanya mengandalkan marcun untuk manghalau gajah liar agar tidak masuk ke kebun namun hal itu juga tidak menjadi senjata ampuh mengusir hewan berberalai kembali masuk ke hutan. Korban harta milik warga dan korban jiwapun tidak dapat dihindari.

Pemerintah kehabisan akal menangani konflik gajah yang berkepanjangan sehingga Pihak Pemerintah Aceh memutuskan belajar ke New Delhi, India pada akhir 2018 lalu yang kabarnya akan menerapkan konsep Di Assam, Negara bagian India, tempat dimana lokasi Manas National Parak dan Kaziranga National Park berada.

Namun beberapa waktu yang lalu saya berbincang-bincang dengan salah seorang petani kebun warga Gampong Blang Awee Pidie Jaya Meureudu di salah satu warung kopi di Pidie Jaya menuturkan, hewan mamalia bertubuh besar tersebut takut kepada lubang, gajah akan menghindar dengan yang namanya lubang agar ia tidak terjatuh dan masuk ke lubang. Dalam pengalamannya ia juga telah melihat langsung ada warga yang membuka kebun dan disekeliling kebun digali lubang, dan alhasil kebun tersebut terbebas dari ancaman kelompok gajah liar.

Namun hal tersebut membutuhkan dana yang lumayan besar, dalam hal ini tidak mungkin masyarakat mampu melakukan mengali lubang pada lintasan korodor gajah agar gajah tidak memasuki kawasan pemukiman. Ucapnnya.

Dirinya yakin dengan menggali lubang pada lintasan gajah korodor mampu mengatasi konflik gajah dengan manusia. walaupun untuk menerapkan konsep ini perlu dikaji ulang, namun inilah solusi sederhana dari darinya yang hanya berprofesi sebagai petani dengan segala keterbatasan informasi.

Ia juga berencana kebun miliknya akan digali lubang disekelilingi kebun. Dengan kata lain kebunnya akan dipagari dengan lubang agar terhindar dari amukan gajah liar yang selama ini meresahkan warga.

Walau ada konsep dan setplan serta solusi yang sempurna jika masalah ini tidak ditangani sesegera mungkin dan keseriusan berbagai pihak dengan merealisasikan langsung dilapangan masalah tidak pernah berakhir dan tak terselesaikan.

Harapan besar masyarakat yang terkena langsung dampak konflik gajah segera berakhir dengan konsep dan solusi apapun sehingga tidak ada lagi korban dari pihak masyarakat. (TM)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Flora