Connect
To Top

Gainpala UIN Berhasil Tembus Lima Puncak dalam Ekpedisi SB3M

Ulumasen.com | Banda Aceh – Unit Kegiatan Mahasiswa Pecinta Alam dan Lingkungan Hidup (UKM PA-LH) Gainpala Universitas Islam Negeri (UIN) Banda Aceh melakukan ekspedisi lima puncak kawasan Bukit Barisan di Aceh Besar yang dinamai Ekspedisi SB3M (Ekspedisi Sijuk, Bae, Meundom, Meutala, dan Meucica) yang dilaksanakan dari tanggal 16 hingga 24 Februari 2019.

Kegiatan tersebut selain agenda tahunan ekspedisi ini juga bertujuan untuk memetakan jalur pendakian, serta untuk mengeksplor keindaham alam yang ada di kawasan tersebut.

Dalam ekpedisi SB3M tim ekpedisi yang beranggotakan 6 orang juga melakukan inventarisasi Flora dan Fauna di jalur pendakian, dari hasil inventarisasi tim ekpedisi menemukan berbagai beberapa jenis tumbuhan dan satwa yang masuk dalam katagori jenis langka, selain itu tim juga menemukan bekas penebangan hutan atau ilegal loging, sebut Supervisor Ekspedisi Ahmad Murtaza.

UKM PA-LH Gainpala Universitas Islam Negeri (UIN), dalam kegiatan ekspedisi SB3M menembus lima puncak kawasan Bukit Barisan | Photo Dok: Gainpala

Ahmad Murtaza mengisahkan pelepasan tim dilakukan di Kampus UIN pada Sabtu 16 Februari 2019 dan memulai kegiatan pendakian dengan berjalan memasuki hutan atau rimba dari Desa Bueng Kota Jantho yang merupakan titik awal pendakian. Selanjutnya tim melintasi jalur lereng gunung mengikuti jalur yang telah diplot dalam peta jalur pendakian.

“Kami berjalan mengikuti track yang telah diploting di peta jalur pendakian, kami membuka jalur sendiri, apabila menemukan jalur yang sudah ada, itu menjadi bonus perjalanan”, ujarnya sambil tersenyum.

Puncak pertama yang mereka jejaki kaki adalah puncak Gle Sijuek. dari Glee Sijuek menuju ke glee Mendom Gle vegetasinya masih sangat padat, sehingga mereka harus membuka jalur baru. kata Supervisor Ekspedisi Ahmad Murtaza.

Di Gle Sijuk, lanjutnya, tim berjalan melalui jalur lintasan satwa, dari sana mereka langsung menuju Puncak Goh Dua, dan selanjutnya tembus ke puncak Gle Bae.

“Dari hasil inventarisasi flora fauna yang kita lakukan di jalur pendaian di kawasan puncak vegetasi hutan masih rimbun dan rapat, satwa dan tumbuhannya masih terlihat tumbuh subur, dikawasan  itu belum tersentuh tangan manusia, selain itu banyak tanaman rotan di dalam kawasan tersebut tak jarang  tim harus melewati tebing bebatuan yang cadas,” paparnya.

Dalam pendakian Tim sering menjumpai kotoran harimau, namun, satwa yang sangat langka tersebut tidak pernah terlihat secara langsung selama pendakian, kecuali burung rangkong, elang, monyet, dan juga babi hutan, itu kerap kita temukan,” jelasnya.

Selain itu, sambungnya, tim juga kerap menemukan berbagai jenis tanaman yang dilindungi, seperti bunga raflesia, anggrek, dan kantung semar yang berada di sepanjang jalur pendakian. Untuk raflesia, tim hanya menemukan di tiga titik berbeda, sementara jenis tanaman lain tersebar hampir di setiap hutan rimba.

Tumbuhan Kantong Semar (Nepenthes) | Photo: Dok Gainpala

Sementara itu jalur yang dekat dengan kawasan pemukiman atau kaki pegunungan tim banyak menemukan bekas penebangan kayu ilegal. Namun di dalam kawasan hutan atau lokasi penebangan tidak pernah bertemu dengan warga yang sedang beraktivitas. “kami hanya melintasi saja, tidak terlalu menghabiskan waktu untuk hal lain, karena kami fokus pada target ekspedisi untuk mencapai lima puncak,” kata Ahmad Murtaza.

Ahmad Murtaza juga menuturkan target pendakian ekspedisi SB3M hanya menjejaki kaki di lima puncak kawasan Bukit Barisan. Namun, fakta di lapangan, tim berhasil melewati tujuh puncak, di mana dua gunung lainnya berada di jalur pendakian SB3M yaitu Goh Dua dan Gle Tring dan itu menjadi bonus dalam ekspedisi SB3M.

“Alhamdulillah tim berhasil menyelesaikan ekspedisi SB3M selama 9 hari tanpa kendala dilapangan dan semua anggota kita dalam kondisi sehat walafiat dari mulai pendakian hingga suksesnya ekspedisi SB3M ,” pungkas Ahmad Murtaza.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Berita