Connect
To Top

China Hentikan Impor Sampah Plastik, Sebagian Besar Masuk ke Indonesia

Ulumasen.com – Direktur Eksekutif Ecoton (Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah), Prigi Arisandi mengatakan, masuknya sampah dengan merk dan lokasi jual di luar Indonesia, diduga akibat kebijakan China menghentikan impor sampah plastik dari sejumlah negara di Eropa termasuk Amerika. Hal ini membuat sampah plastik beralih tujuan ke negara-negara di ASEAN, termasuk Indonesia.

Di kutip dari voaindonesia.com Prigi Arisandi mengungkapkan Impor sampah plastik ini mengemuka, atau menjadi tinggi volumenya itu tiga bulan terakhir. “Sejak November itu kita telah melihat gejalanya. Jadi ada satu perusahaan kertas yang dia mengimpor bahan baku kertas itu, di dalamnya bercampur, 60 persen merupakan sampah plastic sehingga volume buangan sampah ke luar yang biasanya tiga sampai lima dump truk, per hari dan ini sampai lima belas dump trup per hari yang isinya plastic, botol plastik, sachet(kemasan), yang tidak bisa didaur ulang,” ujar Prigi.

Berdasarkan kajian Ecoton atas merk sampah plastik (brand-audit) yang masuk tersebut, Ecoton mengumpulkan lebih dari 50 merk yang berasal dari lebih 20 negara di Eropa, Amerika, Australia dan Asia. Merk ini tertera pada sampah plastik kemasan yang diambil sebagai contoh di empat lokasi pembuangan dari empat pabrik kertas di Sidoajo, Gresik dan Mojokerto.

Sementara itu hasil uji laboratorium yang dilakukan peneliti Ecoton, Andreas Agus Kristanto Nugroho, atas contoh dari 11 saluran pembuangan pabrik kertas dan plastik di sepanjang Sungai Surabaya, juga menemukan partikel mikroplastik di dalam air.

“Ada banyak serpihan, per-milinya dia sangat dominan, rata-rata di bawah mikroplastik yang disepakati oleh kawan-kawan di jurnal ilmiah itu adalah di bawah lima mili, itu sepakati disebut mikroplastik,” kata Andreas.

Andreas menyebut partikel mikroplastik sangat berbahaya bagi makhluk hidup, yang secara langsung maupun tidak langsung hidup di air yang terdapat mikroplastik. Mikroplastik dapat menjadi transporter bagi limbah beracun dan zat berbahaya lainnya. Dari 168 ikan yang diteliti dengan dibedah lambungnya, ditemukan mikroplastik di lambung semua jenis ikan yang diteliti.

“Bahayanya di mikroplastik itu sebenarnya adalah dia sebagai transporter. Plastik sendiri tidak akan hancur ketika dicerna oleh makhluk hidup, tapi dia mengikat bahan-bahan lain yang dari limbah, dari racun yang ada di perairan sehingga dia mengikat di plastik ini yang akhirnya masuk ke saluran pencernaannya makhluk hidup terutama ikan yang sedang kita teliti, itu akhirnya zat-zat yang terikat ini yang terlepas dan terserap oleh ikan,” imbuhnya.

Pada kesempatan tersebut Prigi Arisandi menegaskan akan mengirimkan surat kepada kementerian terkait, agar memperhatikan ancaman bahaya sampah plastik bagi kelestarian lingkungan hidup. Prigi menyebutkan surat Menteri Perindustrian kepada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tertanggal 1 November 2018, yang meminta rekomendasi dibukanya keran impor plastik, serta persiapan sejumlah pabrik kertas meningkatkan kapasitas mesin industrinya, jelas merupakan indikasi masuknya sampah plastik impor ke Indonesia.

“Ini sudah kita siapkan surat kepada Menteri Perindustrian untuk memberikan sanksi kepada industri-industri, yang kita punya 11 daftar industri di Jawa Timur yang mereka kami duga melakukan impor ilegal, tidak hanya kertas tapi plastik. Kita juga akan menyurati Menteri Lingkungan (LHK), untuk tidak mengimpor sampah plastik. Dan kita juga akan menyurati Menteri Keuangan terkait dengan Bea Cukai, karena ada kebocoran pengawasan hingga lolosnya ratusan kontainer sampah plastik impor dari Amerika dan Inggris ke Indonesia,” pungkas Prigi. [pr/em].

Sumber: voaindonesia.com

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Berita